Pernyataan Sikap SBIPT atas Tuduhan Tidak Berdasar dari Asosiasi Pemberi Kerja Terkait…
💢Pernyataan Sikap SBIPT atas Tuduhan Tidak Berdasar dari Asosiasi Pemberi Kerja Terkait Kasus Direct Hiring Perawat ====================================
Asosiasi Internasional Keluarga Penyandang Disabilitas dan Pemberi Kerja Perawat Rumah Tangga Taiwan (selanjutnya disebut Asosiasi Pemberi Kerja) dalam beberapa hari terakhir berulang kali menggunakan media sosial dan media massa untuk menyerang keseluruhan sistem direct hiring dengan mengangkat satu kasus langsung sebagai contoh. Mereka bukan hanya memelintir fakta, tetapi juga sengaja menggambarkan para Pekerja Migran sebagai ancaman bagi keamanan keluarga. Pendekatan yang menggunakan satu kasus untuk menggambarkan keruntuhan sistem bukan hanya lemah secara logika, tetapi juga menunjukkan sikap bermusuhan yang telah lama dimiliki asosiasi tersebut terhadap pekerja migran, tanpa pernah benar-benar memberikan solusi yang membantu pemberi kerja Taiwan. SBIPT, sebagai organisasi pendamping dalam kasus ini, berkewajiban meluruskan kesalahpahaman publik dan menunjukkan dampak negatif dari narasi kebencian semacam ini terhadap keseluruhan sistem perawatan.
Pada hari mediasi, perwakilan Asosiasi Pemberi Kerja menggunakan nada sinis, mengejek, dan menyerang pribadi terhadap NGO pendamping (TIWA) serta pekerja migran yang hadir. Sikap tersebut tidak hanya mengganggu jalannya mediasi, tetapi juga sama sekali tidak membantu penyelesaian masalah. Ketua Dinas Tenaga Kerja Kota New Taipei beberapa kali menegur mereka dan meminta agar serangan tidak berdasar tersebut dihentikan. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa cara intervensi asosiasi tersebut bukan untuk membantu pemberi kerja, tetapi memanfaatkan konflik untuk menciptakan opini publik dan pertentangan. TIWA dan SBIPT sepanjang proses mengikuti prosedur dan menjelaskan fakta kasus dengan sikap kooperatif, sangat kontras dengan cara Asosiasi Pemberi Kerja yang memanipulasi emosi dan permusuhan.
Dalam proses mediasi, pihak pekerja migran yang terlibat menggunakan bahasa Mandarin untuk menyampaikan penjelasan hampir setengah dari keseluruhan waktu, berupaya mempertahankan haknya serta meluruskan fakta secara langsung. Serangan Asosiasi Pemberi Kerja yang menuding adanya “masalah bahasa” sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan dan hanya memperburuk situasi dengan mengada-ada.
Dalam unggahan mereka setelah mediasi, Asosiasi Pemberi Kerja menggambarkan kasus ini seolah-olah “pekerja migran membahayakan nyawa penerima perawatan”. Namun, penilaian otoritas terkait sama sekali tidak demikian. Jika kasus ini benar-benar memiliki risiko keselamatan yang serius seperti yang mereka klaim, otoritas seharusnya mengizinkan pemutusan kontrak segera sesuai prosedur yang berlaku. Justru karena faktanya tidak memenuhi syarat pemutusan segera, Dinas Tenaga Kerja meminta kedua belah pihak menjalani mediasi dan meninjau bukti sesuai mekanisme yang ada. Asosiasi Pemberi Kerja sengaja membesar-besarkan kasus sehingga masyarakat salah paham, mengira keluarga Taiwan tidak memiliki perlindungan dan pekerja migran bertindak sewenang-wenang. Cara mereka membingkai isu ini bukan hanya merusak pemahaman publik, tetapi juga memberi tekanan opini yang tidak perlu kepada pihak pemberi kerja yang terlibat.
Perlu ditegaskan kembali bahwa sistem pemutusan kontrak di Taiwan saat ini sudah memberikan prosedur lengkap bagi pemberi kerja untuk mengajukan permohonan ketika ada alasan yang jelas. Namun, Asosiasi Pemberi Kerja dalam pernyataannya mengusulkan model “pemutusan tanpa alasan”, yaitu pemberi kerja dapat kapan saja memulangkan pekerja tanpa memberikan alasan apa pun. Usulan semacam ini tidak hanya bertentangan dengan prinsip perlindungan tenaga kerja yang telah lama dibangun di Taiwan, tetapi juga akan membuat pekerja migran hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian yang berkepanjangan dan pada akhirnya berdampak langsung pada kualitas perawatan. Pekerjaan perawatan membutuhkan hubungan interpersonal yang stabil dan dasar kepercayaan. Jika pekerja dapat diberhentikan kapan saja tanpa peringatan, yang menjadi korban bukan hanya pekerja migran, tetapi justru para lansia dan keluarga yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
🔷SBIPT mengajak masyarakat untuk melihat inti persoalan yang sebenarnya yaitu sistem perlu diperbaiki, informasi harus transparan, dan mekanisme yang jelas serta dapat diprediksi bagi pemberi kerja dan pekerja migran harus dibangun. Menggunakan satu kasus untuk menghasut konflik, menyudutkan NGO pendamping atau menyederhanakan persoalan sistem menjadi semata-mata kesalahan pekerja migran sebagai “tidak patuh” atau “berbahaya” tidak akan membantu menyelesaikan kesulitan nyata di lapangan. Pendekatan tersebut justru membuat seluruh lingkungan perawatan menjadi semakin tidak stabil bagi mereka yang membutuhkan.
SBIPT akan terus mendampingi para pekerja migran yang terdampak dalam kasus masing- masing dan terus mendorong perbaikan sistem secara menyeluruh. Kami percaya bahwa hanya dengan membangun ruang diskusi yang berlandaskan fakta, seluruh pekerja perawatan dan penerima perawatan dapat memperoleh dukungan yang aman, bermartabat, dan dapat diprediksi, sehingga sistem perawatan di Taiwan dapat benar-benar maju.
SBIPT; BERDAYA SEJAHTERA TERLINDUNGI Salam SOLIDARITAS ✊
