SELAMAT HARI BATIK NASIONAL
🇮🇩 SELAMAT HARI BATIK NASIONAL 🇮🇩
2 Oktober — Batik, Identitas Bangsa, dan Perjalanan Pekerja Migran Indonesia
Ada sesuatu yang selalu terasa berbeda ketika mengenakan batik jauh dari tanah air.
Bukan hanya tentang kain dengan motif dan warna yang indah. Ada cerita yang ikut melekat di dalamnya—tentang tanah kelahiran, tentang keluarga yang ditinggalkan, tentang budaya yang diwariskan, dan tentang sebuah identitas yang tetap kita bawa, sejauh apa pun kaki melangkah.
Di Taiwan, kami menjalani hari sebagai Pekerja Migran Indonesia sektor perawatan.
Setiap hari, tangan kami bekerja merawat lansia, membantu orang yang sakit, menyiapkan kebutuhan sehari-hari, dan mendampingi kehidupan orang lain. Ada hari-hari yang panjang, ada rasa lelah yang tidak selalu terlihat, dan ada rindu yang terkadang hanya bisa disimpan dalam diam.
Namun, di tengah kehidupan sebagai pekerja migran, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar kami tinggalkan: Indonesia.
Indonesia hadir dalam bahasa yang kami gunakan ketika berbicara dengan sesama teman sebangsa. Hadir dalam doa yang kami panjatkan. Hadir dalam makanan yang kami rindukan. Hadir dalam lagu, cerita, tradisi, dan tentu saja—dalam batik yang kami kenakan.
Karena bagi kami, batik bukan sekadar pakaian.
Batik adalah pengingat bahwa kami berasal dari sebuah bangsa dengan sejarah, budaya, dan warisan yang begitu kaya.
Ketika batik melekat di tubuh kami di negeri orang, rasanya seperti membawa sepotong kecil tanah air ke tempat kami mencari kehidupan.
Kami mungkin datang ke Taiwan untuk bekerja.
Tetapi kami tidak datang tanpa membawa identitas.
Kami datang sebagai manusia Indonesia—dengan martabat, hak, budaya, cita-cita, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Kami merawat manusia di negeri orang, tetapi kami juga ingin terus merawat sesuatu yang menjadi bagian dari diri kami sendiri: identitas sebagai bangsa Indonesia.
Sebab menjadi pekerja migran bukan berarti kehilangan jati diri.
Kami tetap bagian dari Indonesia.
Kami tetap memiliki hak untuk dihormati, dilindungi, dan diperlakukan secara adil di tempat kami bekerja.
Dan melalui batik, kami ingin mengatakan kepada dunia bahwa di balik sosok pekerja migran ada manusia yang memiliki cerita.
Ada seorang anak yang merindukan orang tuanya.
Ada seorang ibu yang berjuang untuk keluarganya.
Ada seorang perempuan yang meninggalkan rumah demi masa depan.
Ada manusia yang bekerja dengan tangan dan hati, sambil membawa nama Indonesia di setiap langkahnya.
Dari Taiwan, kami mengenakan batik bukan hanya untuk memperingati sebuah hari.
Kami mengenakannya sebagai pengingat:
Sejauh apa pun kami pergi, Indonesia tetap menjadi bagian dari diri kami.
Batik adalah warisan budaya.
PMI adalah bagian dari bangsa.
Dan ketika keduanya berjalan bersama, kami membawa Indonesia melintasi batas negara—melalui budaya, kerja, perjuangan, dan pengabdian.
🇮🇩 Selamat Hari Batik Nasional.
Dari Taiwan, untuk Indonesia.
Bangga berbatik. Bangga menjadi Indonesia. Bangga menjadi pekerja migran yang bermartabat.
SBIPT BERDAYA- Sejahtera -Terlindungi
